Event

Isi Liburan Sekolah Anak dengan Little Hajj: Serunya Belajar Manasik Haji Lewat Permainan

Alif Iqra menghadirkan Little Hajj di Rumah Dandelion untuk mengisi libur sekolah anak usia 3–7 tahun. Belajar rukun haji jadi menyenangkan lewat permainan interaktif!

Diperbarui September 202610 menit bacaTim Alif Iqra

Daftar Isi

Bunda, pernah bingung mengisi liburan sekolah si kecil dengan kegiatan yang seru tapi tetap bermanfaat? Alif Iqra punya jawabannya lewat program Little Hajj yang digelar di Rumah Dandelion pada Rabu 1 Juli 2026. Di sini, anak-anak mengenal rangkaian manasik haji lewat praktik langsung dan permainan, sehingga mereka belajar tanpa merasa sedang diajari.

Alasan Little Hajj Hadir: Belajar Agama Lewat Dunia Anak

Kak Ocha dari Alif Iqra menjelaskan bahwa program Little Hajj dirancang khusus untuk mengisi waktu libur sekolah anak dengan aktivitas yang positif dan membahagiakan.

“Anak-anak butuh kegiatan yang produktif saat libur sekolah. Lewat Little Hajj, kami ingin mengenalkan ibadah manasik haji dengan metode yang dekat dengan dunia bermain mereka,” ujar Kak Ocha.

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan nilai-nilai Rukun Islam kelima sejak usia dini. Dengan mempraktikkan tiap tahapan secara langsung, anak-anak dapat memahami makna dan urutan ibadah haji secara lebih alami dan membekal dalam ingatan mereka.

Les mengaji privat menggunakan buku Alifun
Menggunakan pakaian ihram, para peserta Little Hajj berbaris dan berjalan bersama untuk belajar Tawaf.

Antusiasme 10 Peserta Cilik Usia 3–7 Tahun

Program Little Hajj Alif Iqra diikuti oleh 10 peserta anak berusia 3 hingga 7 tahun dan terbuka untuk umum. Acara ini dipandu oleh Ust. Abdurrahman Saleh sebagai mentor serta Kak Iffa sebagai pemandu acara (host).

Sepanjang kegiatan berlangsung—baik saat berada di dalam ruangan (indoor) maupun aktivitas luar ruangan (outdoor)—anak-anak tampak sangat antusias dan aktif mengikuti setiap sesi.

Petualangan “Berhaji” Lewat 6 Pos Permainan Interaktif

Kegiatan berlangsung meriah mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Sekolah Kids Republic, dilanjutkan dengan sesi ice breaking lagu “Saya Mau ke Mekkah” sembari mengenalkan pakaian ihram kepada peserta.

Selanjutnya, para peserta cilik memulai petualangan mengelilingi 6 Pos Ibadah Haji:

  • Pos 1 (Tawaf): Mengelilingi replika Ka’bah dengan tertib.
  • Pos 2 (Sa’i): Menyimak kisah teladan di balik Sa’i, lalu berjalan di antara dua titik.
  • Pos 3 (Mabit di Mina): Mengenal tahapan bermalam (mabit) di Mina.
  • Pos 4 (Wukuf di Arafah): Berdoa bersama di Puncak Arafah dan memahami keutamaannya.
  • Pos 5 (Muzdalifah & Jumrah): Mengumpulkan kerikil kecil dan melatih motorik lewat simulasi melontar jumrah.
  • Pos 6 (Tahalul): Simulasi memotong rambut dan menikmati kesegaran air zamzam.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pos, kegiatan ditutup dengan permainan edukatif Qurban Games, makan camilan bersama, serta sesi foto dokumentasi.

Aktifitas mengenal manasik Haji menggunakan Worksheet Art & Craft yang menarik.
Aktifitas mengenal manasik Haji menggunakan Worksheet Art & Craft yang menarik.

Terbuka untuk Kolaborasi Sekolah dan Komunitas

Melihat respons positif dari para orang tua dan peserta, Alif Iqra membuka kesempatan kerja sama bagi sekolah maupun komunitas yang ingin menghadirkan pengalaman belajar manasik haji interaktif bagi anak-anak.

“Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan sekolah atau komunitas yang ingin mengadakan kegiatan manasik haji anak. Tim Alif Iqra siap membantu merancang dan memfasilitasi jalannya acara,” tutup Kak Ocha.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Perubahan mendadak biasanya punya pemicu spesifik: level materi yang naik terlalu cepat, pergantian guru, atau pengalaman tidak nyaman di satu sesi. Tanyakan pada anak dengan pertanyaan terbuka, dan periksa apakah ada yang berubah dalam dua sampai tiga minggu terakhir.

Sekitar 2–5 menit dikalikan usia anak. Anak 5 tahun umumnya optimal di 10–25 menit, anak 8 tahun di 16–40 menit. Lebih baik sesi pendek yang selesai dengan baik daripada sesi panjang yang berakhir dengan konflik.

Boleh sebagai pemantik di awal, tapi jangan dijadikan sistem permanen. Motivasi eksternal cenderung melemah seiring waktu. Geser perlahan ke apresiasi spesifik atas usaha anak, bukan hadiah materi atas hasil.

Sangat normal dan sering terjadi. Anak memisahkan peran: orang tua adalah tempat aman untuk merengek, guru adalah figur dengan otoritas berbeda. Banyak keluarga justru terbantu dengan menyerahkan pengajaran ke guru dan mengambil peran sebagai pendukung.

Bisa, tapi butuh pendekatan yang mengakomodasi kebutuhan bergeraknya. Sesi lebih pendek dengan jeda aktivitas fisik, atau metode yang melibatkan gerakan dan sentuhan, jauh lebih efektif daripada memaksanya duduk diam.

Kalau setelah 4–6 pertemuan anak masih menolak khusus di hari guru tersebut datang, dan tidak ada perbaikan meski sudah dikomunikasikan, penggantian guru layak dipertimbangkan. Kecocokan anak dengan pengajar adalah faktor terbesar yang menentukan program berjalan lama atau berhenti.

Cari Guru Ngaji Privat yang Tepat untuk Keluarga Anda?

Ingin tahu program mana yang paling sesuai untuk usia dan kemampuan ananda, lengkap dengan rincian biayanya? Konsultasikan langsung dengan tim kami lewat WhatsApp — gratis, tanpa kewajiban mendaftar.