Simak keseruan kolaborasi Teens & Beyond dan SMA Islam Al Azhar 3 dalam PAQI Globe 2. Siswa kelas XI IBDP belajar aqidah dan fiqih melalui debat kritis ala PBB (MUN) untuk menjawab tantangan global.

Sebuah ruang diskusi berubah menjadi panggung diplomasi ala Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lengkap dengan peran dan sudut pandang spesifik yang harus diperjuangkan, suasana ini bukanlah simulasi politik internasional biasa. Inilah cara inovatif siswa membahas bagaimana Aqidah dan Fiqih mampu menjawab berbagai persoalan dunia nyata.
Momen inspiratif ini terwujud dalam kolaborasi Teens & Beyond dan SMA Islam Al Azhar 3 melalui program PAQI Globe 2. Mengusung tema “Level Up Your Deen: Aqidah Foundation, Fiqih in Action”, acara yang digelar pada Jumat (16/10/2026) di Ballroom 1O1 URBAN Jakarta Thamrin ini sukses menghadirkan pengalaman belajar Islam yang segar dan relevan bagi siswa-siswi kelas XI International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP).
PAQI Globe 2 bukanlah program instan, melainkan kelanjutan dari pembinaan karakter dan penguatan aqidah yang telah dimulai sejak kelas X. Kak Ari Armadi, perwakilan fasilitator kegiatan, menjelaskan bahwa jika sebelumnya siswa diperkenalkan pada fondasi dasar aqidah, kini di kelas XI mereka didorong untuk melangkah lebih jauh.
Siswa diajak mengeksplorasi keyakinan secara lebih kritis dan argumentatif, sekaligus mengontekstualisasikan fiqih sebagai panduan nyata dalam bersikap.
“Sebagai siswa IBDP yang terbiasa berpikir kritis dan mendiskusikan berbagai isu global, mereka perlu dibekali kemampuan untuk menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas kehidupan,” tegas Kak Ari.

Salah satu sesi paling menarik dalam kegiatan ini adalah ajakan bagi siswa untuk merefleksikan cara mereka memahami keyakinan. Islam sejatinya sangat mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan berpikir kritis.
Dalam sesi ini, siswa diajak membedah batasan antara ajaran murni Islam dengan sekadar perilaku umat atau tradisi. Mereka menelaah secara mendalam apakah sebuah praktik yang dianggap “Islami” di masyarakat benar-benar bersumber dari wahyu, atau hanya merupakan interpretasi, fabrikasi, maupun asimilasi budaya.
Materi yang disampaikan sangat komprehensif, mencakup:
Perbedaan mendasar antara ibadah (ritual) dan muamalah (interaksi sosial).
Tahapan praktis menerapkan nilai Islam dalam aktivitas harian.
Cara menjadikan aqidah dan fiqih sebagai lensa untuk merespons isu-isu global secara bertanggung jawab.

Metode pembelajaran aktif menjadi inti dari PAQI Globe 2. Siswa terlibat penuh dalam brainstorming, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Namun, puncak keseruan terjadi pada sesi debat menggunakan pendekatan Model United Nations (MUN).
Setiap siswa diberikan peran atau mewakili perspektif tertentu dalam merespons persoalan nyata di masyarakat. Melalui simulasi PBB ini, siswa ditantang untuk:
Memahami berbagai sudut pandang yang berbeda.
Membangun argumen yang logis dan terstruktur.
Menguji bagaimana prinsip aqidah dan fiqih dapat diaplikasikan sebagai solusi atas persoalan tersebut.
Pendekatan interaktif ini terbukti berhasil mendobrak stigma bahwa belajar agama itu kaku dan membosankan. Kak Ari dan Kak Nabiel membagikan momen berkesan pasca-acara, di mana banyak siswa yang langsung menghampiri mereka untuk menyatakan ketertarikan mendalam terhadap materi yang dibahas. Beberapa siswa bahkan mengeluhkan waktu kegiatan yang terasa kurang karena mereka masih ingin melanjutkan perdebatan yang seru.
“Respons tersebut menunjukkan bahwa pembahasan agama dapat menjadi ruang eksplorasi yang relevan dan menyenangkan bagi generasi muda. Terutama ketika mereka diberi kesempatan untuk bertanya, berpikir kritis, berdiskusi, dan menyampaikan perspektif mereka sendiri,” ungkap Kak Nabiel.

Sebagai siswa program IBDP, banyak dari peserta kegiatan ini yang bersiap melanjutkan studi ke luar negeri. Mereka akan berhadapan langsung dengan keberagaman budaya, benturan pemikiran, serta perspektif global yang kompleks.
Oleh karena itu, kolaborasi Teens & Beyond x SMA Islam Al Azhar 3 ini merancang PAQI Globe 2 sebagai bekal esensial. Siswa diharapkan tidak hanya memiliki fondasi aqidah yang tak tergoyahkan, tetapi juga luwes menggunakan fiqih sebagai kompas dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Mereka dipersiapkan untuk menjadi generasi Muslim yang mampu bersikap terbuka terhadap perbedaan tanpa harus kehilangan prinsip, tetap kritis tanpa mudah menghakimi, serta teguh dalam keyakinan sembari terus membuka diri untuk belajar. Leveling up dalam beragama bukan sebatas menghafal lebih banyak teori, melainkan memahami agama secara mendalam dan menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi semesta.
Ingin tahu program mana yang paling sesuai untuk usia dan kemampuan ananda, lengkap dengan rincian biayanya? Konsultasikan langsung dengan tim kami lewat WhatsApp — gratis, tanpa kewajiban mendaftar.
Perubahan mendadak biasanya punya pemicu spesifik: level materi yang naik terlalu cepat, pergantian guru, atau pengalaman tidak nyaman di satu sesi. Tanyakan pada anak dengan pertanyaan terbuka, dan periksa apakah ada yang berubah dalam dua sampai tiga minggu terakhir.
Sekitar 2–5 menit dikalikan usia anak. Anak 5 tahun umumnya optimal di 10–25 menit, anak 8 tahun di 16–40 menit. Lebih baik sesi pendek yang selesai dengan baik daripada sesi panjang yang berakhir dengan konflik.
Boleh sebagai pemantik di awal, tapi jangan dijadikan sistem permanen. Motivasi eksternal cenderung melemah seiring waktu. Geser perlahan ke apresiasi spesifik atas usaha anak, bukan hadiah materi atas hasil.
Sangat normal dan sering terjadi. Anak memisahkan peran: orang tua adalah tempat aman untuk merengek, guru adalah figur dengan otoritas berbeda. Banyak keluarga justru terbantu dengan menyerahkan pengajaran ke guru dan mengambil peran sebagai pendukung.
Bisa, tapi butuh pendekatan yang mengakomodasi kebutuhan bergeraknya. Sesi lebih pendek dengan jeda aktivitas fisik, atau metode yang melibatkan gerakan dan sentuhan, jauh lebih efektif daripada memaksanya duduk diam.
Kalau setelah 4–6 pertemuan anak masih menolak khusus di hari guru tersebut datang, dan tidak ada perbaikan meski sudah dikomunikasikan, penggantian guru layak dipertimbangkan. Kecocokan anak dengan pengajar adalah faktor terbesar yang menentukan program berjalan lama atau berhenti.