Mengintip serunya 107 siswa Kids Republic mengikuti simulasi manasik haji anak usia dini (Little Hajj) bersama Alif Iqra. Belajar agama jadi lebih asyik dan nyata!

Kain ihram putih sudah terpasang rapi, boarding pass sudah digenggam erat, dan kloter siap diberangkatkan! Namun, tujuan para jamaah cilik ini bukanlah Tanah Suci, melainkan halaman sekolah mereka sendiri.
Pada Selasa (19/5/2026), Alif Iqra sukses menghadirkan program Little Hajj di sekolah Kids Republic. Sebanyak 107 anak, yang terdiri dari 51 anak laki-laki dan 56 anak perempuan, diajak belajar manasik haji melalui praktik langsung yang interaktif. Meski rintik hujan sempat turun sejak awal acara, semangat “jamaah haji” cilik ini sama sekali tidak surut.
Program Little Hajj di Kids Republic ini bermula dari permintaan pihak sekolah internasional tersebut yang ingin mengenalkan tata cara ibadah haji kepada siswa tingkat preschool dan kindergarten (TK). Bagi sebagian besar anak, ini merupakan pengalaman pertama mereka mempraktikkan rukun Islam yang kelima.
Bagi Alif Iqra, kegiatan ini merupakan salah satu agenda tahunan unggulan untuk mengenalkan program edukasi Islam anak usia dini.
“Awalnya hujan terus, tapi alhamdulillah semuanya terlaksana dengan baik. Anak-anak happy sekali, apalagi ini pengalaman pertama mereka,” ungkap Kak Ocha, salah satu pendamping dari Alif Iqra.

Untuk memberikan kesan memori yang mendalam, Alif Iqra merancang suasana manasik haji sesenyata mungkin. Perlengkapan pendukung disiapkan dengan detail; tenda untuk prosesi mabit disewa secara khusus, tugu Arafah didirikan, hingga area tahalul dibuat menyerupai aslinya.
Anak-anak juga dibekali dengan boarding pass dan papan penanda kloter layaknya calon jamaah haji sungguhan. Menariknya lagi, di pos tahalul disediakan air zamzam asli yang bisa langsung diminum oleh anak-anak sebagai bentuk apresiasi usai menyelesaikan seluruh rukun!
Rangkaian acara dimulai pada pukul 08.00 pagi. Para guru dengan telaten membantu anak-anak mengenakan kain ihram di kelas masing-masing. Setelah itu, seluruh peserta berkumpul di Main Hall untuk menyanyikan lagu Kakbah, mendengarkan sambutan Kepala Sekolah, dan melakukan sesi ice breaking seru bertajuk “Saya Mau ke Mekkah” yang dipandu oleh MC Kak Ulfi.
Tiba saatnya jamaah cilik diberangkatkan! Mereka berkeliling ke 7 pos edukasi yang dipandu langsung oleh para mutowif andal dari tim Alif Iqra:
Pos 1
Mengelilingi replika Kakbah lengkap dengan Rukun Yamani dan Hijr Ismail.
Pos 2
Mendengarkan kisah historis sa’i, lalu berjalan dan berlari kecil di antara bukit Shafa dan Marwa.
Pos 3
Merasakan suasana beristirahat dan bermalam di dalam tenda khusus.
Pos 4
Memanjatkan doa dengan khusyuk di area replika tugu Arafah.
Pos 5
Simulasi mengumpulkan kerikil kecil dan melontar tiga jamarat.
Pos 6
Prosesi memotong rambut secara simbolis dan menikmati air zamzam asli.
Pos 7
Area permainan edukatif untuk anak-anak sembari menunggu giliran pos.

Di balik gelak tawa dan keseruannya, ada pesan moral dan spiritual yang ingin ditanamkan kuat di hati anak-anak.
Kak Ocha memaparkan bahwa pemakaian ihram yang serba putih bertujuan mengajarkan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah SWT. Selain itu, anak-anak juga diajak untuk meneladani kesabaran Nabi Ibrahim AS serta kisah para nabi lainnya di Padang Arafah.
“Harapannya, anak-anak bisa meneladani hikmah di balik ibadah haji ini, dan tumbuh keinginan yang kuat untuk suatu hari nanti benar-benar beribadah haji ke Tanah Suci,” harap Kak Ocha.

Pengalaman berharga di Kids Republic ini membuktikan bahwa menanamkan nilai-nilai agama bisa dilakukan dengan cara yang sangat interaktif dan menyenangkan. Harapannya, benih kecintaan pada ibadah haji sudah mulai tertanam sejak dini.
Alif Iqra selalu terbuka untuk menghadirkan kembali program Little Hajj di sekolah, institusi, atau komunitas lain yang ingin memberikan pengalaman belajar manasik haji tak terlupakan kepada anak-anak.
Perubahan mendadak biasanya punya pemicu spesifik: level materi yang naik terlalu cepat, pergantian guru, atau pengalaman tidak nyaman di satu sesi. Tanyakan pada anak dengan pertanyaan terbuka, dan periksa apakah ada yang berubah dalam dua sampai tiga minggu terakhir.
Sekitar 2–5 menit dikalikan usia anak. Anak 5 tahun umumnya optimal di 10–25 menit, anak 8 tahun di 16–40 menit. Lebih baik sesi pendek yang selesai dengan baik daripada sesi panjang yang berakhir dengan konflik.
Boleh sebagai pemantik di awal, tapi jangan dijadikan sistem permanen. Motivasi eksternal cenderung melemah seiring waktu. Geser perlahan ke apresiasi spesifik atas usaha anak, bukan hadiah materi atas hasil.
Sangat normal dan sering terjadi. Anak memisahkan peran: orang tua adalah tempat aman untuk merengek, guru adalah figur dengan otoritas berbeda. Banyak keluarga justru terbantu dengan menyerahkan pengajaran ke guru dan mengambil peran sebagai pendukung.
Bisa, tapi butuh pendekatan yang mengakomodasi kebutuhan bergeraknya. Sesi lebih pendek dengan jeda aktivitas fisik, atau metode yang melibatkan gerakan dan sentuhan, jauh lebih efektif daripada memaksanya duduk diam.
Kalau setelah 4–6 pertemuan anak masih menolak khusus di hari guru tersebut datang, dan tidak ada perbaikan meski sudah dikomunikasikan, penggantian guru layak dipertimbangkan. Kecocokan anak dengan pengajar adalah faktor terbesar yang menentukan program berjalan lama atau berhenti.
Ingin tahu program mana yang paling sesuai untuk usia dan kemampuan ananda, lengkap dengan rincian biayanya? Konsultasikan langsung dengan tim kami lewat WhatsApp — gratis, tanpa kewajiban mendaftar.