Mencari tempat belajar mengaji anak di Palembang yang menyenangkan? Intip keseruan metode fun learning di booth Alif Iqra Gramedia Burlian Palembang!

Mencari metode belajar mengaji anak di Palembang yang tidak membosankan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Menjawab kebutuhan tersebut, Alif Iqra hadir membawa angin segar melalui metode pembelajaran Al-Qur’an yang inovatif dan interaktif.
Hal ini terlihat jelas dari antusiasme warga saat Alif Iqra membuka booth edukasi di Gramedia Burlian Palembang pada Ahad (27/9/2026). Di tengah ramainya pengunjung yang berburu buku, sudut booth Alif Iqra justru dipenuhi anak-anak yang asyik bermain sambil mengenal huruf hijaiyah.
Banyak orang tua yang rela begadang demi menemani anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Namun, Bunda Rahma justru memilih pendekatan yang bertolak belakang: sejak kecil, ia tidak pernah sekalipun mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah.
Hasilnya sangat mengejutkan. Kedua putrinya, Aisyah dan Nadya, berhasil tumbuh menjadi Grand Master Memori termuda, meraih ratusan medali internasional, dan dikenal luas sebagai peserta Clash of Champions (CoC) Ruang Guru.
Bagaimana rahasia di balik kesuksesan tersebut? Kisah inspiratif ini dibagikan langsung oleh Bunda Rahma dalam Webinar Kajian Parenting Alif Iqra, sebuah program rutin bulanan yang dirancang untuk mendampingi Ayah dan Bunda bertumbuh bersama dalam mendidik anak.

Daya tarik utama dari kehadiran Alif Iqra adalah pengenalan metode mengaji fun learning. Di booth ini, disediakan berbagai permainan edukatif khas Alif Iqra yang bisa langsung dicoba oleh anak-anak. Metode ini terbukti ampuh mengubah stigma bahwa belajar agama itu kaku dan membosankan.
Antusiasme pengunjung pun melonjak tajam. Booth tidak hanya dipenuhi anak-anak, tetapi juga berubah menjadi ruang konsultasi bagi para orang tua (parents). Banyak dari mereka yang penasaran dan bertanya langsung mengenai cara mendaftar dan detail kurikulum yang ditawarkan.
“Beberapa parents menyatakan bahwa sangat jarang menemukan kegiatan mengaji fun learning di Palembang. Hal ini yang membuat mereka tertarik untuk bergabung,” jelas Kak Adella.

Keseruan metode pembelajaran dari Alif Iqra menciptakan berbagai momen berkesan hari itu. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah ketika seorang anak yang datang sendirian ke booth, terlalu asyik bermain sambil belajar. Ia tampak sangat nyaman menikmati fasilitas fun learning yang ada, hingga akhirnya sang ibunda harus menghampiri langsung karena sang anak tak mau beranjak pergi.
Momen mengharukan lainnya datang dari kehadiran seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ikut bergabung. Anak tersebut tampak sangat menikmati setiap aktivitas dan berbaur dengan gembira, membuktikan bahwa metode pendekatan Alif Iqra sangat ramah dan inklusif untuk semua anak.
Melalui kegiatan di Gramedia Burlian Palembang ini, Alif Iqra menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam dunia pendidikan agama Islam anak usia dini.
“Alif Iqra hadir di Palembang berharap memberikan warna baru dalam dunia pendidikan, khususnya dalam belajar mengaji Al-Qur’an dengan metode yang menyenangkan namun juga terstruktur,” tutup Kak Adella.
Bagi parents yang ingin memberikan pengalaman belajar agama terbaik, les mengaji Al-Qur’an Palembang dari Alif Iqra adalah solusi cerdas agar anak mencintai Al-Qur’an sejak dini tanpa merasa terbebani.

Ingin tahu program mana yang paling sesuai untuk usia dan kemampuan ananda, lengkap dengan rincian biayanya? Konsultasikan langsung dengan tim kami lewat WhatsApp — gratis, tanpa kewajiban mendaftar.
Perubahan mendadak biasanya punya pemicu spesifik: level materi yang naik terlalu cepat, pergantian guru, atau pengalaman tidak nyaman di satu sesi. Tanyakan pada anak dengan pertanyaan terbuka, dan periksa apakah ada yang berubah dalam dua sampai tiga minggu terakhir.
Sekitar 2–5 menit dikalikan usia anak. Anak 5 tahun umumnya optimal di 10–25 menit, anak 8 tahun di 16–40 menit. Lebih baik sesi pendek yang selesai dengan baik daripada sesi panjang yang berakhir dengan konflik.
Boleh sebagai pemantik di awal, tapi jangan dijadikan sistem permanen. Motivasi eksternal cenderung melemah seiring waktu. Geser perlahan ke apresiasi spesifik atas usaha anak, bukan hadiah materi atas hasil.
Sangat normal dan sering terjadi. Anak memisahkan peran: orang tua adalah tempat aman untuk merengek, guru adalah figur dengan otoritas berbeda. Banyak keluarga justru terbantu dengan menyerahkan pengajaran ke guru dan mengambil peran sebagai pendukung.
Bisa, tapi butuh pendekatan yang mengakomodasi kebutuhan bergeraknya. Sesi lebih pendek dengan jeda aktivitas fisik, atau metode yang melibatkan gerakan dan sentuhan, jauh lebih efektif daripada memaksanya duduk diam.
Kalau setelah 4–6 pertemuan anak masih menolak khusus di hari guru tersebut datang, dan tidak ada perbaikan meski sudah dikomunikasikan, penggantian guru layak dipertimbangkan. Kecocokan anak dengan pengajar adalah faktor terbesar yang menentukan program berjalan lama atau berhenti.