Oleh: Amimma Nurti Lusdiana (Guru Alif Medan)

Assalamualaikum, Sahabat Alif! Wah, tanpa terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun 1441 Hijriah ya. Di bulan yang namanya ‘Dzulhijjah’ ini, Sahabat Alif pada tahu nggak kalau ada banyak keutamaan di dalamnya loh. Tidak sedikit juga peristiwa-peristiwa yang dialami oleh nabi terjadi pada bulan ini. Nah, sekarang kita cerita-cerita dulu yuk tentang kisah Nabi Yunus yang hidup di dalam perut ikan paus selama 40 hari dan berhasil keluar atas pertolongan Allah tepat pada tanggal 2 Dzulhijjah.

Tahukah Sahabat bahwa Nabi Yunus diangkat menjadi Nabi dan Rasul di usia 33 tahun? Masih tergolong muda bukan? Beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama-Nya kepada penduduk kampung Ninawa yang berada di daerah Mosul, Irak. Kaum Ninawa pada saat itu termasuk golongan yang belum mengenal Allah dan menyembah patung berhala. Nabi Yunus pun pergi ke sana meninggalkan Syam dengan menempuh perjalanan jauh melewati gurun pasir yang panas dan gersang.

Sesampainya di sana, banyak orang yang menolak Nabi Yunus. Pesan-pesan Nabi Yunus dianggap menghina berhala sebagai Tuhan mereka. Orang-orang pada saat itu  menyebut Nabi Yunus ‘gila’. Pada saat itu, hanya dua orang yang bersedia mengikuti Nabi, namanya Rubil dan Tanuh. Namun, hingga setelah bertahun-tahun pun penduduk Ninawa juga masih ingkar dan tidak percara dengan kebenaran yang telah disampaikan, hingga pada akhirnya Nabi Yunus pergi dari kota tersebut. Beliau memutuskan pergi meninggalkan kaum Ninawa bersama Tanuh dengan perasaan yang sangat sedih. Di sepanjang perjalanan, dia berdoa agar kaum Ninawa segera diberi  peringatan oleh Allah SWT.

Dalam perjalanan, badai petir dan angin kencang pun kemudian datang menyapu ladang, peternakan, dan rumah-rumah kaum Ninawa. Tidak Tanya itu gempa yang besar pun datang. Saat itu mereka jadi ingat semua yang pernah disampaikan oleh Nabi Yunus as. Penduduk Ninawa lalu mencarinya ke sana ke mari untuk bertaubat dan mezminta maaf. Sedangkan Nabi Yunus saat itu telah berada di dermaga dan bersiap menaiki kapal.

Ketika kapal yang ditumpangi Nabi Yunus berlayar, awan kemudian terlihat menghitam, lalu ombak besar mengguncang kapal yang ditumpanginya. Badai besar tersebut membuat kapal menjadi oleng dan Nabi Yunus pun mengajak para penumpang untuk mengingat Allah. Kapal bergerak kesana kemari tanpa arah, nakhoda, bapak pengendali kapal, meminta seluruh penumpang untuk membuang barang-barang yang mereka bawa agar semua bisa selamat dan kapal tidak tenggelam. Namun kapal tetap bergerak tak terkendali, nakhoda pun memutuskan untuk mengurangi jumlah penumpang. Mereka kemudian melakukan undian untuk menentukan siapa yang harus keluar dari kapal di tengah ombak laut yang besar.

Undian pertama, nama yang keluar adalah nama Nabi Yunus. Para penumpang terkejut dan tidak setuju karena beliau adalah orang yang sangat baik. Undian kedua pun dilakukan, tetapi hasilnya tetap sama, nama Nabi Yunus yang keluar. Mereka pun kemudian mencoba untuk yang ketiga kalinya, namun masih tetap nama Nabi Yunus yang keluar. Dengan bijaksana Nabi Yunus pun kemudian keluar dari atas kapal karena Nabi Yunus percaya ini merupakan tanda dan pesan dari Allah. Nabi Yunus pun terjun ke laut sambil menyebut nama Allah. Kapal yang oleng kemudian menjadi stabil dan para penumpang semakin yakin akan kebenaran yang telah disampaikan Nabi.

Setelah terjun, Nabi Yunus pun terombang-ambing di lautan yang luas. Dia tak lupa untuk senantiasa berdzikir dan mengingat Allah, hingga tiba-tiba datanglah seekor ikan paus besar dan memasukkannya ke dalam perutnya.

Sungguh mukjizat Allah Nabi Yunus masih bisa bernafas di dalam perut ikan paus tersebut. Nabi Yunus tersadar bahwa tidak seharusnya ia meninggalkan kaumnya begitu saja. Ia pun kemudian memento maaf dan terus mengingat Allah dengan berdzikir, beristighfar, dan meminta maaf kepada Allah. Selama di dalam perut Ikan Nabi Yunus terus berdoa. Doa ini ada di dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 87:

لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzholimin

Artinya: Tidak ada tuhan selain Engkau (Allah), Mahasuci Engkau (Allah). Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.

Di dalam perut ikan paus yang gelap Nabi Yunus berada disana selama 40 hari. Setelah melihat kesungguhan hati Nabi Yunus, Allah pun mengeluarkannya ke dekat daratan, tepat pada tanggal 2 Dzulhijjah. Peristiwa ini Allah sebutkan dalam firman-Nya di Al-Quran Surat As-Saffat ayat 143-144 yang berbunyi, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.”

Setelah keluar, Nabi Yunus terus berenang hingga ke tepian. Sesampainya di daratan, tubuhnya lemah dan terlunglai di bibir pantai. Nabi Yunus kemudian bangkit, terus berjalan, lalu berteduh di bawah pohon yang menghasilkan buah sejenis labu dan memakannya. Pohon itu kemudian mengalami kekeringan, Nabi Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Allah pun berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering? Namun kamu tidak mengangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.” Allah pun memerinthakan Nabi Yunus untuk kembali pada kaumnya dan menginformasikan bahwasanya Allah SWT telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Nabi Yunus pun bergegas pergi melaksanakan perintah itu.

Sesampainya di Ninawa, penduduk Ninawa senang sekali. Mereka kemudian menjalankan segala apa yang disukai Allah dan menjauhi segala yang tidak disukai Allah. Allah memberikan hadiah kepada mereka yang percaya. Ladang-ladang kembali subur, ternak-ternak berkembang biak, rumah-rumah kembali dibangun, mereka hidup dalam kenikmatan. Mereka sungguh sudah bertaubat kepada Allah.

Kisah Nabi Yunus ini memberikan pelajaran kepada kita akan betapa dahsyatnya makna sabar. Nabi Yunus pernah hampir menyerah, namun beliau sadar akan peringatan Allah dan langsung mengevaluasi diri tanpa menyalahkan orang lain. Dalam bentuk apapun yang harus diingat adalah Allah sebagai tempat berlindung meminta pertolongan serta berserah diri.

Nabi Yunus juga mengajarkan kepada kita untuk bersabar dalam ber doa -meminta kapada Allah. Ada banyak kebaikan lainnya yang Allah janjikan untuk orang yang bersabar. Allah SWT yang paling mengetahui kapan waktu terbaik untuk mengabulkan doa kita.

 

Sumber Referensi:

www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200505211323-289-500451/kesungguhan-tobat-nabi-yunus-cerita-dan-doa-di-perut-paus

kisahmuslim.com/2662-kisah-nabi-yunus-alaihissalam.html

www.youtube.com/watch?v=OTf57nkxDKk

tirto.id/bacaan-niat-puasa-dzulhijjah-arafah-tarwiyah-hukum-dan-keutamaan-fSl4